Tampilkan postingan dengan label Kotaku nganjuk uhuy. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kotaku nganjuk uhuy. Tampilkan semua postingan

27.2.11

wind town itulah kotaku


Nganjuk...
Yah di sinilah saya di lahirkan, kota dengan sebutan kota angin ini sungguh memukau untuk saya dengan keindahan kota ini membuat saya semakin cinta....
nah inilah letak kota saya


Kabupaten Nganjuk adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Ibukotanya adalah Nganjuk. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Bojonegoro di utara, Kabupaten Jombang di timur, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Ponorogo di selatan, serta Kabupaten Madiun di barat.

Geografi
Kabupaten Nganjuk terletak antara 11105' sampai dengan 112013' BT dan 7020' sampai dengan 7059' LS. Luas Kabupaten Nganjuk adalah sekitar ± 122.433 Km2 atau 122.433 Ha yang terdiri dari atas:
Tanah sawah 43.052.5 Ha
Tanah kering 32.373.6 Ha
Tanah hutan 47.007.0 Ha
Dengan wilayah yang terletak di dataran rendah dan pegunungan, Kabupaten Nganjuk memiliki kondisi dan struktur tanah yang cukup produktif untuk berbagai jenis tanaman, baik tanaman pangan maupun tanaman perkebunan sehingga sangat menunjang pertumbuhan ekonomi dibidang pertanian. Kondisi dan struktur tanah yang produktif ini sekaligus ditunjang adanya sungai Widas yang mengalir sepanjang 69,332 km dan mengairi daerah seluas 3.236 Ha, dan sungai Brantas yang mampu mengairi sawah seluas 12.705 Ha.
Jumlah curah hujan per bulan selama 2002 terbesar terjadi pada bulan Januari yaitu 7.416 mm dengan rata-rata 436 mm. Sedangkan terkecil terjadi pada bulan November dengan jumlah curah hujan 600 mm dengan rata-rata 50mm. Pada bulan Juni sampai dengan bulan Oktober tidak terjadi hujan sama sekali.
SEJARAH
Nganjuk dahulunya bernama Anjuk Ladang yang dalam bahasa Jawa Kuna berarti Tanah Kemenangan. Dibangun pada tahun 859 Caka atau 937 Masehi.
Pada masa penjajahan Belanda, kabupaten ini disebut sebagai Kabupaten Berbek dengan Nganjuk sebagai ibu kotanya.

Objek wisata di nganjuk


SEDUDO

Air Terjun Sedudo adalah sebuah air terjun dan obyek wisata yang terletak di Desa Ngliman Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Jaraknya sekitar 30 km arah selatan ibukota kabupaten Nganjuk. Berada pada ketinggian 1.438 meter dpl, ketinggian air terjun ini sekitar 105 meter. Tempat wisata ini memiliki fasilitas yang cukup baik, dan jalur transportasi yang mudah diakses.
Masyarakat setempat masih mempercayai, air terjun in memiliki kekuatan supra natural. Lokasi wisata alam ini ramai dikunjungi orang pada bulan Sura (kalender Jawa). Konon mitos yang ada sejak zaman Majapahit, pada bulan itu dipercaya membawa berkah awet muda bagi orang yang mandi di air terjun tersebut.
Setiap Tahun Baru Jawa, air terjun Sedudo dipergunakan untuk upacara ritual, yaitu memandikan arca dalam upacara Parna Prahista, yang kemudian sisa airnya dipercikan untuk keluarga agar mendapat berkah keselamatan dan awet muda. Hingga sekarang pihak Pemkab Nganjuk secara rutin melaksanakan acara ritual Mandi Sedudo setiap tanggal 1 Suro.


Air terjun Roro Kuning di Bajulan,
Salah satu alternatif wisata adalah air terjun merambat Roro Kuning di Desa Bajulan, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur.

Pemandanganya yang asri dan nyaman sangat indah dan tepat untuk wisata sambil ngabuburit (menunggu waktu berbuka puasa).

Sutaji, salah seorang tokoh masyarakat di Desa Bajulan, mengemukakan keindahan lokasi wisata yang dibangun sejak 2004 tepatnya pada 17 Desember tersebut sudah tidak diragukan.

Air terjun ini berasal dari tiga sumber air dari Gunung Wilis, mengalir merambat di sela-sela bebatuan padas di bawah pepohonan pinus.

Kemudian menjadi air terjun yang membentuk trisula dengan ketinggian sekitar 10-15 meter, sehingga masyarakat sekitar menyebutnya dengan air terjun merambat.

Nama Roro Kuning sendiri, berdasarkan cerita tokoh masyarakat Desa Bajulan, Mbah Nyambik, berasal dari Ruting dan Roro Kuning yang merupakan putri Raja Kadiri dan Dhoho yang berkuasa sekitar abad Xi hingga XII.

Nama asli Ruting adalah Dewi Kilisuci, sementara Roro Kuning adalah Dewi Sekartaji yang merupakan putri semata wayang Lembu Amiseno dari Kerajaan Dhoho. Ketika kedua putri raja itu sakit, di kerajaan tidak ada yang bisa menyembuhkan. Ruting sakit kuning sementara Roro Kuning sakit gondok dan kulit.

Untuk mencari kesembuhan kedua putri raja tersebut mengembara masuk keluar hutan belantara, naik gunung turun gunung dan akhirnya singgah di lereng Gunung Wilis Desa Bajulan.

Ketika sedang merenungi nasibnya sang putri bertemu dengan Resi Darmo dari Padepokan Ringin Putih desa Bajulan.

Di sinilah kedua putri raja tersebut dirawat dan diberi obat ramuan tradisional oleh Resi tersebut. Dengan ramuan dedaunan, sakit putri raja akhirnya bisa sembuh.

Dalam proses penyembuhannya, putri Ruting dan Kuning sering mandi di air terjun yang kemudian diabadikan oleh Resi itu menjadi nama air terjun.

Fasilitas
Lokasi wisata air terjun merambat Roro Kuning ini terletak sekitar 25 kilometer dengan ketinggan sekitar 600 meter dari permukaan air laut tepatnya. Lokasi wisata tersebut sangat asri Gunung Wilis bagian Selatan serta Gunung Limas.

Lokasi ini dapat digunakan sebagai alternatif pembelajaran sejarah. Terdapat museum Panglima Besar Jenderal Sudirman yang dulu ditandu demi menghindari penjajah.

Untuk mengabadikan perjalanan beliau, pemerintah melestarikanya dengan agenda napak tilas Kediri - Bajulan oleh Pemerintah Kota Kediri.

Fasilitas yang disediakan di areal Perhutani di petak 66 tersebut dikelola cukup bagus dan lengkap. Terdapat areal bermain untuk anak-anak, "outbond", kolam renang baik untuk anak-anak maupun dewasa, "green house", mushalla, vila, serta laboratorium yang terdapat 40 jenis tanaman langka.

Selain itu, juga terdapat sebuah tempat untuk penangkaran rusa. Sedikitnya ada 12 jenis rusa timur atau "cervus timorensis" yang dipeliraha di tempat penangkaran tersebut.

Selain itu, lokasi parkir yang tersedia juga cukup luas, sehingga memudahkan kendaraan untuk singgah.

Bukan hanya itu, lokasi wisata ini juga terawat baik. Bahkan, kebersihan di lokasi tersebut juga selalu dijaga, sehingga para wisatawan selalu merasa nyaman dengan kebersihanya.

Keberadaan pedagang kaki lima di lokasi tersebut juga dikelola dengan baik. Para pengunjung tidak perlu khawatir kelaparan, setelah menjelajah sekitar 20 hektare luas wilayah, dengan memilih berbagai menu yang disiapkan oleh sekitar 30 PKL yang berada di sana.

Karcis masuk ke lokasi tersebut juga cukup murah. Setiap wisatawan yang datang hanya dipungut Rp2.000,00 per orang dan Rp1.000,00 per kendaraan untuk bisa masuk ke lokasi tersebut.

Ongkos tersebut terlalu murah daripada panorama yang didapatkan saat berkunjung.

Untuk menuju ke lokasi wisata tersebut tidak cukup sulit. Wisatawan bisa memanfaatkan kendaraan umum pribadi maupun umum dengan naik bus jurusan Kediri - Nganjuk.

Ongkos yang dikeluarkan untuk naik bus Kediri - Loceret Rp5.000,00, lalu melanjutkan perjalanan dengan naik ojek jurusan Bajulan-Loceret dengan ongkos Rp20.000,00.

Ongkos yang dikeluarkan memang mahal, karena kendaraan umum ke lokasi tersebut cukup terbatas. Hal inilah yang terkadang membuat wisatawan yang tidak membawa kendaraan pribadi kesulitan menuju ke lokasi tersebut.

Tuti, salah soerang wisatawan dari Kediri mengaku cukup puas dengan pemandangan yang ada di daerah tersebut. Namun, ia kesulitan menuju ke lokasi itu, karena angkutan umum yang terbatas, sehingga ia memilih memanfaatkan kendaraan pribadi.

Hal senada juga diungkapkan oleh Djoko, wisatawan asal Nganjuk. Ia mengaku datang ke air terjun Roro Kuning, selain untuk ngabuburit, juga untuk "refresing".

"Datang ke sini, untuk ngabuburit dengan teman - teman. Pemandanganya cukup menarik," kata Djoko yang memilih memanfaatkan kendaraan roda dua menuju lokasi tersebut.

Kepala Sub Bagian Pemberitaan Pemerintah Kabupaten Nganjuk Ahmadi mengaku masalah angkutan umum memang menjadi kendala tersendiri ke lokasi wisata tersebut. Hal itu juga yang membuat tingkat kunjungan ke lokasi itu juga masih terbatas.

"Kami memang merencanakan untuk membuat trayek baru yang nantinya bisa menghubungkan antara Ngetos - Sawahan dan tembus hingga Bojonegoro. Direncakan, trayek baru tersebut bisa terealisasi 2-3 tahun mendatang.

"Kami memang berencana membuat jalur trayek baru yang bisa sampai ke Bojonegoro. Dipastikan, dengan trayek tersebut beberapa objek wisata seperti air terjun Roro Kuning bisa manarik kunjungan para wisatawan terutama dari luar daerah," kata Ahmadi mengungkapkan.


Monumen Gerilya Jenderal Sudirman di Bajulan - Loceret dan Sawahan,

Terletak di desa Bajulan, kec. Loceret arah selatan kota Nganjuk. Monumen didirikan sebagai tanda bahwa di desa Bajulan pernah disinggahi Panglima Besar Jendral Soedirman selama 9 hari dalam rute perjalanannya memimpin perang gerilya melawan Belanda pada tahun 1949. 3 km dari monumen ke arah selatan terdapat padepokan yang sekarang dijadikan museum, juga tempat wudlu, tempat perundingan, serta tempat shalat yang pernah dipakai beliau selama tinggal di desa Bajulan.

B IOGRAFI :
Nama         : Jenderal Sudirman
Lahir          : Bodas Karangjati, Purbalingga, 24 Januari 1916
Agama       : Islam
Meninggal   : Magelang, 29 Januari 1950
Dimakamkan: Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta
Pendidikan Fomal:
- Sekolah Taman Siswa
- HIK Muhammadiyah, Solo (tidak tamat)
Pendidikan Tentara:
Pembela Tanah Air (Peta) di Bogor
Pengalaman Pekerjaan:
Guru di HIS Muhammadiyah di Cilacap
Pengalaman Organisasi:
Kepanduan Hizbul Wathan
Jabatan di Militer:
- Panglima Besar TKR/TNI, dengan pangkat Jenderal
- Panglima Divisi V/Banyumas, dengan pangkat Kolonel
Komandan Batalyon di Kroya
Tanda Penghormatan: Pahlawan Pembela Kemerdekaan



Candi getos di Kecamatan Ngetos,
Lokasinya di Desa Ngetos, Kecamatan Ngetos, sekitar 17 Kmr arah selatan kota Nganjuk. Menurut para ahli, berdasarkan bentuknya candi ini dibuat pada abad XV (jaman Majapahit). Bangunan secara fisik sudah rusak, bahkan beberapa bagiannya sudah hilang, sehingga sukar sekali ditemukan bentuk aslinya.

Candi Ngetos bersifat Siwa–Wisnu. Kalau dikaitkan dengan agama yang dianut Raja Hayam Wuruk, amatlah sesuai yaitu agama Siwa-Wisnu. Bangunan utama candi tersebut dari batu merah, sehingga akibatnya lebih cepat rusak. Atapnya diperkirakan terbuat dari kayu (sudah tidak ada bekasnya). Yang masih bisa dilihat tinggal bagian induk candi dengan ukuran sebagai berikut : Panjang candi (9,1 m), tinggi badan (5,43 m), tinggi keseluruhan (10 m), saubasemen (3,25 m), besar tangga luar (3,75 m), lebar pintu masuk (0,65 m), tinggi undak menuju ruang candi (2,47 m) dan ruang dalam (2,4 m). Terdapat empat buah releif, namun sekarang hanya tinggal satu, yang tiga telah hancur. Pigura-pigura pada saubasemennya (alasnya) juga sudah tidak ada. Dibagian atas dan bawah pigura dibatasi oleh loteng-loteng, terbagi dalam jendela-jendela kecil berhiaskan belah ketupat, tepinya tidak rata, atau menyerupai bentuk banji. Hal ini berbeda dengan bangunan bawahnya yang tidak ada piguranya, sedangkan tepi bawahnya dihiasi dengan motif kelompok buah dan ornamen daun. Disebelah kanan dan kiri candi terdapat dua relung kecil yang diatasnya terdapat ornamen yang mengingatkan pada belalai makara. Namun jika diperhatikan lebih seksama, ternyata suatu bentuk spiral besar yang diperindah. Yang menarik, adalah motif kalanya yang amat besar, yaitu berukuran tinggi 2 x 1,8 meter. Kala tersebut masih utuh terletak disebelah selatan. Wajahnya menakutkan, dan ini menggambarkan bahwa kala tersebut mempunyi kewibawaan yang besar dan agaknya dipakai sebagai penolak bahaya. Motif kala semacam ini didapati hampir pada seluruh percandian di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali. Motif ini sebenarnya berasal dari India, kemudian masuk Indonesia pada Jaman Hindu. Candi Ngetos, yang sekarang tinggal bangunan induknya yang sudah rusak itu, dibangun atas prakarsa Raja Hayam Wuruk. Tujuan pembuatan candi ini sebagai tempat penyimpanan abu jenasahnya jika kelak wafat. Hayam Wuruk ingin dimakamkan disitu karena daerah Ngetos masih termasuk wilayah Majapahit yang menghadap Gunung Wilis, yang seakan-akan disamakan dengan Gunung Mahameru. Pembuatannya diserahkan pada pamannya Raja Ngatas Angin, yaitu Raden Condromowo, yang kemudian bergelar Raden Ngabei Selopurwoto.Diceritakan, bahwa Raden Ngabei Selopurwoto mempunyai keponakan yang bernama Hayam Wuruk yang menjadi Raja di Majapahit. Hayam Wuruk semasa hidup sering mengunjungi pamannya dan juga Candi Lor. Wasiatnya , ketika Hayam Wuruk wafat, jenasahnya dibakar dan abunya disimpan di Candi Ngetos. Namun bukan pada candi yang sekarang ini, melainkan pada candi yang sekarang sudah tidak ada lagi. Konon ceritanya pula, di Ngetos dulu terdapat dua buah candi yang bentuknya sama (kembar), sehingga mereka namakan Candi Tajum. Hanya bedanya, yang satu lebih besar dibanding lainnya.


Candi lor

Lokasi : desa candirejo Kec. Loceret
Candi Lor terletak di desa Candirejo, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk, atau kira-kira 3-4 kilometer arah selatan dari pusat kota Nganjuk. Candi Lor ini didirikan oleh Pu Sindok pada tahun 859 Caka atau 937 M sebagai Tugu Peringatan Kemenangan Sindok atas musuhnya dari Melayu. Secara riil, candi yang menghadap ke barat ini wujudnya sudah tidak berbentuk lagi (sudah sangat rusak). Hal ini disebabkan usia bangunan yang memang sudah sangat tua, bahkan bangunan yang terbuat dari batu merah dan tumbuhnya pohon Kepuh di badan candi yang akar-akarnya mencengkeram dan menghunjam kesegala arah di badan candi sebelah selatan. Candi ini berdiri atas tanah seluas 42 x 39,4 meter 91654 meter persegi), luas soebasemen (alas) 12,4 x 11,5 meter (142,6 meter persegi) dan tinggi candi lebih kurang 9,3 meter. Dalam candi ini terdapat beberapa area diantaranya Ganesha dan Nandi. Meskipun keadaannya sudah rusak, dapat diperkirakan bahwa candi ini dahulunya mempunyai ruang dalam yang berbentuk segi empat.. Hal ini terlihat adanya sudut siku-siku yang masih tampak di sudut timur laut ruang dalam candi ini. Sekarang ini, di sebelah barat candi terdapat dua arca yang semuanya sudah tanpa kepala, yang satu diperkirakan arca Ganesha dan yang lain Siwa Mahadewa. Di sebelah barat arca terdapat Lingga dan Yoni, yang keadaannya telah rusak (Yoni telah pecah dan Lingga tinggal sebagian). Di sebelah baratnya lagi terdapat dua buah makam yang oleh penduduk diyakini sebagai makam Yang Karta dan Yang Kerti, abdi kinasih Pu Sindok. Jika benar bahwa benda-benda tersebut asli dari Candi Lor, maka dapat disimpulkan bahwa candi Lor bersifat Siwa. Walaupun Candi Lor keadaannya telah rusak, namun ditempat inilah terdapat salah satu bukti bahwa Nganjuk pernah berperan dalam panggung sejarah nasional. Disini terdapat batu bertulis yang memuat sebutan (toponimi) yang sangat dekat sekali ucapannya dengan Nganjuk, yakni Anjuk Ladang. Candi Lor ini merupakan bukti sejarah tentang keberhasilan Pu Sindok mengalahkan musuhnya, dan sekaligus merupakan Tugu Peringatan (Jayastamba).


Monumen & Pendopo agung Dr. sutomo

Monumen ini terletak di Desa Ngepeh Kec. Loceret yang merupakan desa kelahirannya. Monumen itu didirikan diatas tanah tempat menanam ari-arinya. Dokter Sutomo yang bernama asli Subroto ini lahir di desa Ngepeh, Jawa Timur, 30 Juli 1888. Ketika belajar di STOVIA (Sekolah Dokter), ia bersama rekan-rekannya, atas saran dr. Wahidin Sudirohusodo mendirikan Budi Utomo (BU), organisasi modem pertama di Indonesia, pada tanggal 20 Mei 1908, yang kemudian diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Dilokasi monumen juga dibangun pendopo dan tempat penyimpanan benda-benda bersejarah milik Dr. Soetomo sebagai penunjang obyek wisata sejarah.

Kesenian


Tari Mung Dhe adalah tari tradisional yang berasal dari Desa Garu, kecamatan Baron, Nganjuk. Dalam tari ini bertemakan kepahlawanan dan cinta tanah air, heroik, patriotisme. Selain itu tari ini berkaitan erat dengan kalahnya prajurit Diponegoro yang dipimpin oleh Sentot Prawirodirdjo).
Dalam tari ini menggambarkan beberapa prajurit yang sedang berlatih perang yang lengkap dengan orang yang membantu dan memberi semangat kepada kedua belah pihak yang sedang latihan. Pihak yang membantu dan memberi semangat, di sebut botoh. Botohnya ada dua yaitu penthul untuk pihak yang menang dan tembem untuk pihak yang kalah. Sikap dan tingkah laku kedua botoh ini gecul atau lucu, sehingga membuat orang lain yang menyaksikan tari Mung Dhe, terkesan tegang dan kadang merasa geli, karena yang berlatih perang memakai pedang, sedangkan botohnya lucu .
Secara keseluruhan, tari Mung Dhe melibatkan 14 pemain dengan masing-masing peran pada awalnya, yaitu :
2 orang berperan sebagi penari /prajurit.
2 orang berperan sebagi pembawa bendera.
2 orang berperan sebagai botoh
8 orang berperan sebagai penabuh /pengiring.
Pada perkembanganya sekarang hanya melibatkan 12 orang, yaitu 6 alat untuk 6 orang pemain. Di dalam pengaturan organisasi tari Mung Dhe untuk penarinya adalah laki-laki serta perempuan dan dalam tingkatan usia dewasa [baik yang menikah atau yang belum]. Pada perkembangan sekarang ini, tari Mung Dhe sering ditampilkan pada acara-acara yang dilaksanakan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Daerah Kabupaten Nganjuk, seperti Pemilihan Duta Wisata, maupun Grebeg Suro, maupun Jamasan Pusaka, serta saat Upacara Wisuda (gembyangan-red) Waranggono. [1]


Tari Tayub atau acara Tayuban. merupakan salah satu kesenian Jawa yang mengandung unsur keindahan dan keserasian gerak. Tarian ini mirip dengan tari Jaipong dari Jawa Barat. Unsur keindahan diiikuti dengan kemampuan penari dalam melakonkan tari yang dibawakan. Tari tayub mirip dengan tari Gambyong yang lebih populer dari Jawa Tengah. Tarian ini biasa digelar pada acara pernikahan, khitan serta acara kebesaran misalnya hari kemerdekaan Republik Indonesia. Perayaan kemenangan dalam pemilihan kepala desa, serta acara bersih desa. Anggota yang ikut dalam kesenian ini terdiri dari sinden, penata gamelan serta penari khususnya wanita. Penari tari tayub bisa dilakukan sendiri atau bersama, biasanya penyelenggara acara (pria). Pelaksanaan acara dilaksanakan pada tengah malam antara jam 9.00-03.00 pagi. Penari tarian tayub lebih dikenal dengan inisiasi ledhek. tari tayub merupakan tarian pergaulan yang disajikan untuk menjalin hubungan sosial masyarakat. beberapa tokoh agama islam menganggap tari tayub melanggar etika agama , dikarenakan tarian ini sering dibarengi dengan minum minuman keras. pada saat menarikan tari tayub sang penari wanita yang disebut ledek mengajak penari pria dengan cara mengalungkan selendang yang disebut dengan sampur kepada pria yang diajak menari tersebut. serinng terjadi persaingaan antara penari pria yang satu dengan penari pria lainnya, persaingan ini ditunjukkan dengan cara memberi uang kepada Tledek (istilah penari tayub wanita).persaingan ini sering menimbulkan perselisihan antara penari pria.


Wayang Timplong adalah sejenis kesenian wayang dari daerah Nganjuk, Jawa Timur. Kesenian tradisional ini konon mulai ada sejak tahun 1910 dari Dusun Kedung Bajul Desa Jetis, Kecamatan Pace, provinsi Jawa Timur. Wayang ini terbuat dari kayu, baik kayu waru, mentaos, maupun pinus. Instrumen gamelan yang digunakan sebagai musik pengiring, juga sangat sederhana. Hanya terdiri dari Gambang yang terbuat dari kayu atau bambu, ketuk kenong, kempul dan kendang.[1]

makanan khas

NASI BECEK

Nasi becek adalah hidangan khas yang berasal dari Nganjuk, Jawa Timur, Indonesia. Di tempat asalnya hidangan ini dikenal dengan nama sego becek.
Nasi Becek, hidangan khas dari Nganjuk, Jawa Timur
Sego becek adalah hidangan yang mirip dengan kari/kare kambing. Isi dari sego becek nyaris serupa dengan soto babat, namun diberi potongan sate kambing yang telah dilucuti dari tusuk satenya. Daging yang dipilih adalah daging kambing. Tidak lupa diberi potongan bawang merah yang menambah kenikmatan rasa hidangan ini.
Secara keseluruhan, rasanya mungkin cenderung mirip dengan mayoritas makanan sejenis yang berkembang di daerah Solo, Jawa Tengah. Cenderung manis dan tidak asin, berbeda dengan umumnya hidangan utama ala Jawa Timuran yang cenderung asin.
Saat tulisan ini dibuat, seporsi hidangan ini dijual seharga Rp 10.000. Cukup murah untuk ukuran makanan khas disana. Para penjual sego becek biasanya dapat dengan mudah di jumpai didaerah sekitar jalan Dr. Soetomo di kota Nganjuk.